Nyawang Semarang soko awang-awang

Judul di atas dalam Bahasa Indonesia berarti “memandang (panorama) Semarang dari angkasa”. Pada artikel sebelumnya penulis mengajak para traveler menikmati panorama Semarang pada ketinggian 45 hingga 100 meter dari permukaan tanah melalui spot-spot keren di Kota Semarang dan bahkan dari ketinggian 1200 mdpl di Kawasan Umbul Sidomukti. Ternyata dengan posisi pada ketinggian tertentu kita bisa mendapatkan sudut pandang yang berbeda daripada saat kita menikmati objek langsung di lokasi. Pemandangan yang menarik dari ketinggian tentu juga bisa kita nikmati saat berada di pesawat terbang.

Pada saat naik pesawat terbang, banyak momen yang menarik untuk difoto, misalnya saat lepas landas, saat berada di ketinggian, atau menjelang mendarat, tentunya dengan memperhatikan ketentuan dan peraturan penerbangan. Meskipun ada artikel di suatu majalah yang menulis bahwa mengambil foto dari jendela pesawat seperti #travelerpemula, banyaknya posting foto yang dijepret dari pesawat di media sosial menunjukkan ketertarikan para traveler mendapatkan sudut pandang yang berbeda dan betapa indahnya suatu obyek bila dilihat dari atas. Namun selain masalah aturan penerbangan, mengambil foto saat di pesawat terkadang sulit untuk mendapatkan angle yang sesuai keinginan. Lalu?

Video yang diunggah oleh CagiPro – “Semarang from Above”

Setahun belakangan kita mendapatkan kosakata baru, yakni fotografi drone dan jurnalisme drone. Drone adalah sebuah pesawat tanpa awak atau dalam istilah Inggris disebut Unmanned Aerial Vehicle (UAV), yaitu sebuah mesin terbang yang dikendalikan oleh seorang pilot dari jarak jauh atau bahkan sebuah drone mampu mengendalikan dirinya sendiri. Meskipun awalnya lebih ditujukan pada penggunaan bidang militer dan sains, teknologi ini akhirnya sangat bermanfaat dalam berbagai bidang termasuk tourism/pariwisata. Harga drone dan aksesorisnya sudah relatif terjangkau sehingga cukup banyak fotografer dan traveler yang memiliki perangkat ini, bahkan sudah ada komunitasnya pula. Pemanfaatan drone untuk membuat foto dan merekam video objek wisata ternyata sangaaat menarik, seperti yang ditunjukkan para pemenang Aerial Visual Drone Challenge 2015, bulan Mei 2015 yang lalu.

Khususnya untuk Kota Semarang, pemanfaatan drone sebagai sarana promosi wisata belum banyak digunakan. Memang ada beberapa video hasil rekaman drone yang diunggah di youtube.com sebagaimana disematkan(embedded) di artikel ini seijin pemiliknya, namun para pemangku kepentingan bidang pariwisata perlu didorong untuk lebih mengoptimalkan sarana ini, bukan hanya instansi terkait dan biro wisata melainkan juga para fotografer dan videografer. Mengutip tulisan Barry Kusuma –traveller dan photoblogger– seorang travel photographer perlu memanfaatkan teknologi untuk menunjang kariernya, karena ia diharapkan bisa membuat foto wisata yang baik dan bagus. Dengan karya foto atau video melalui drone adalah agar orang yang melihat foto/video travel tersebut menjadi tertarik dan ingin ke tempat tersebut.

Video yang diunggah Ody Putera di youtube.com “DJI PHANTOM INDONESIA – Drone Jurnalism – Kawasan Tugu Muda – Semarang”

Pemanfaatan drone di Indonesia belum ada aturannya secara khusus dan hanya menyesuaikan aturan internasional Civil Aviation Authority (CAA). Senyampang dengan keleluasaan itu, harapan kita para fotografer dan videografer yang telah memiliki atau memanfaatkan drone dapat mengeksplorasi objek-objek wisata –khususnya yang sulit dijangkau dengan kamera konvensional– sehingga semakin menarik dan meningkatkan jumlah kunjungan wisata di indonesia, dan Semarang khususnya.

Catatan: artikel ini saya kontribusikan untuk HelloSemarang.com bulan Juni 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *